Tradisi mudik lebaran selama ini dikenal sebagai salah satu momentum yang mampu menggerakan perekonomian nasional. Lonjakan mobilitas masyarakat diikuti peningkatan konsumsi pada berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga perdagangan ritel. Namun, dampak ekonomi dari aktivitas ini dinilai tidak selalu cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan.
Ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa konsumsi rumah tangga memang menjadi motor utama ekonomi Indonesia karena kontribusinya yang mencapai lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, momentum Lebaran kerap memberi stimulus tambahan bagi aktivitas ekonomi.
Meski demikian, Wisnu menilai dampak ekonomi dari momentum tersebut tidak selalu sebesar yang dibayangkan. Ia mencontohkan pada tahun 2025 pertumbuhan ekonomi kuartal I tercatat sekitar 4,87 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya meskipun terdapat momentum Lebaran. Sejumlah proyeksi ekonom juga memperkirakan pertumbuhan kuartal II hanya sekitar 4,6–4,8 persen. Angka ini menunjukkan bahwa dorongan konsumsi selama lebaran belum tentu mampu mendorong pertumbuhan ekonomi menembus level lima persen.
“Artinya, mudik tetap memberikan stimulus konsumsi, namun tidak cukup kuat untuk mendorong perekonomian secara signifikan. Dalam konteks pembangunan, pertumbuhan Indonesia masih bergantung pada konsumsi domestik yang sifatnya musiman,” ungkapnya.
Selain faktor domestik, dinamika kondisi geopolitik seperti konflik di Timur Tengah termasuk eskalasi Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat berpotensi mendorong kenaikan harga energi global dan meningkatkan tekanan biaya produksi. Dalam situasi seperti ini, konsumsi musiman Lebaran tetap terjadi, tetapi kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi kemungkinan tetap bersifat terbatas dan temporer.
Tekanan Inflasi dari Dua Sisi
Selain mendorong konsumsi, periode lebaran juga kerap memicu tekanan inflasi. Wisnu menjelaskan bahwa lonjakan harga biasanya terjadi pada dua kelompok utama, yaitu pangan dan transportasi akibat meningkatnya permintaan dalam waktu singkat.
Namun pada kondisi ekonomi saat ini, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari peningkatan permintaan, tetapi juga dari potensi kenaikan biaya produksi. Kenaikan harga energi global, misalnya akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, dapat meningkatkan biaya transportasi dan logistik yang pada akhirnya berdampak pada harga barang konsumsi.
“Jadi tekanan harga menjelang Lebaran bisa berasal dari dua sumber sekaligus yaitu permintaan musiman (demand-pull) dan kenaikan biaya produksi atau distribusi (cost-push),” ujarnya.
Menurut Wisnu dinamika inflasi tahun ini kemungkinan lebih kompleks. Jika harga energi global meningkat akibat ketegangan geopolitik, maka tekanan inflasi bisa datang dari sisi biaya produksi dan distribusi. Artinya, inflasi tidak hanya didorong oleh peningkatan permintaan (demand-pull inflation), tetapi juga oleh kenaikan biaya (cost-push inflation). Dinamika ini penting diperhatikan karena kelompok berpendapatan rendah menjadi pihak paling rentan terhadap kenaikan harga pangan dan transportasi.
“Stabilisasi harga menjelang lebaran bukan hanya soal menjaga inflasi makro, tetapi juga melindungi daya beli kelompok rentan,” imbuhnya.
Multiplier Effect Sementara
Mudik juga menciptakan perputaran uang dari kota ke daerah asal para perantau. Dana yang dibawa biasanya digunakan untuk kebutuhan keluarga, konsumsi lokal, hingga kegiatan sosial selama lebaran. Wisnu menilai kondisi ini memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil di daerah. Warung, pedagang makanan, transportasi lokal, hingga pelaku usaha mikro kerap mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan selama periode tersebut.
“Mudik memang menciptakan multiplier effect namun efek tersebut cenderung bersifat jangka pendek dan konsumtif, bukan investasi produktif. Oleh karena itu, dampaknya terhadap penciptaan pekerjaan dan peningkatan produktivitas daerah dalam jangka panjang relatif terbatas,” ujarnya.
Ketimpangan Ekonomi
Wisnu menyampaikan bahwa mudik menggambarkan hubungan ekonomi yang kuat antara kota dan daerah melalui migrasi tenaga kerja. Kota berfungsi sebagai pusat penciptaan pendapatan, sementara daerah sebagai lokasi redistribusi konsumsi melalui jaringan keluarga.
Wisnu menilai fenomena mudik ini mencerminkan ketimpangan kesempatan ekonomi antarwilayah karena kesempatan kerja produktif masih terkonsentrasi di wilayah urban. Banyak masyarakat harus bekerja di kota besar karena terbatasnya peluang kerja produktif di daerah.
Ia menilai upaya pemerataan ekonomi ke depan perlu difokuskan pada penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di luar kota besar. Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan industri regional, pembangunan infrastruktur ekonomi, serta peningkatan kualitas pekerjaan di daerah.
“Dalam konteks kebijakan pembangunan, fenomena mudik seharusnya menjadi pengingat bahwa agenda penting ke depan adalah memperkuat pusat pertumbuhan ekonomi di luar kota besar, menciptakan pekerjaan produktif di daerah, dan mengurangi ketergantungan pada migrasi ekonomi ke kota,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals










