Sektor transportasi merupakan salah satu faktor penggerak ekonomi modern yang menopang mobilitas manusia, distribusi logistik, serta penghubung antar wilayah yang menjadi prasyarat pertumbuhan ekonomi. Namun, sektor ini seringkali menjadi penyumbang emisi karbon dan degradasi lingkungan. Lalu, bagaimana kita dapat menyeimbangkan kebutuhan akan mobilitas dan pertumbuhan ekonomi dengan urgensi menjaga keberlanjutan lingkungan?
Tantangan tersebut dibahas dalam FEB UGM Podcast bertajuk Ekonomi Berkelanjutan dan Demokratis. Dalam podcast tersebut, Dosen Prodi Ilmu Ekonomi FEB UGM, Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa sektor transportasi memiliki peran penting sebagai derived demand dari aktivitas ekonomi. Ketika ekonomi tumbuh, kebutuhan terhadap transportasi otomatis meningkat. Oleh karena itu, transportasi tidak bisa dilepaskan dari pembahasan pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
Secara makro, sektor transportasi memberikan kontribusi yang tidak kecil terhadap perekonomian Indonesia. Prof. Wihana menjelaskan bahwa kontribusi sektor ini berada di kisaran enam persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kalau kita bicara sektor pertumbuhan ekonomi, sektor transportasi kontribusinya mungkin sekitar enam persen, transportasinya hampir empat sampai lima persen, pergudangannya sekitar satu persen,” jelasnya.
Menurut Prof. Wihana, paradigma pembangunan transportasi saat ini telah mengalami pergeseran. Transportasi tidak lagi hanya dipandang dari sisi peningkatan kapasitas dan mobilitas, tetapi juga harus diarahkan pada konsep transportasi berkelanjutan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Ia memandang bahwa transformasi transportasi harus dimulai dari perubahan cara pandang. Keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan penerapan teknologi, tetapi juga menyangkut institusi, regulasi, dan perilaku para aktor yang terlibat.
“Kalau melihat transportasi, kita harus mulai change-nya dari mindset, lalu diregulasi dimodifikasi ke arah keberlanjutan,” jelas Prof. Wihana.
Meskipun gagasan transportasi berkelanjutan semakin menguat, implementasinya di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Prof. Wihana menilai bahwa tantangan utama tersebut bukan terletak pada aspek teknologi semata, melainkan pada proses perubahan mindset yang membutuhkan waktu dan konsistensi.
“Mindset itu berubahnya lama, tapi mindset akan berubah kalau ada regulasi yang jelas dan konsisten,” tegasnya sembari menyampaikan bahwa regulasi berperan sebagai instrumen penting untuk mengarahkan perilaku pasar dan masyarakat agar selaras dengan tujuan keberlanjutan.
Pada implementasinya, Prof. Wihana menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki sejumlah praktik awal transportasi berkelanjutan. Beberapa di antaranya adalah pemanfaatan energi terbarukan di Pelabuhan Teluk Lamong, penggunaan kendaraan listrik di kawasan pariwisata seperti Borobudur dan Bali, serta pengembangan konsep transportasi hijau dan transit-oriented development di Ibu Kota Nusantara.
Namun, ia menekankan bahwa berbagai inisiatif tersebut masih memerlukan konsistensi kebijakan serta integrasi lintas sektor agar memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Prof. Wihana juga menyoroti pentingnya orkestrasi kebijakan lintas sektor. Tanpa koordinasi yang baik antara perencanaan, regulasi, dan implementasi, kebijakan transportasi berkelanjutan berisiko berjalan sendiri-sendiri.
“Kalau kebijakan tidak diorkestrasi, masing-masing sektor bisa jalan sendiri-sendiri. Padahal tujuan akhirnya sama, yaitu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan rendah emisi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Wihana menegaskan bahwa peran dunia usaha dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mendorong transisi menuju transportasi berkelanjutan. Di tingkat global, standar keberlanjutan telah menjadi tuntutan pasar, baik dari investor maupun konsumen. Tanpa adaptasi terhadap prinsip keberlanjutan, sektor transportasi nasional berisiko kehilangan daya saing, terutama dalam konteks logistik dan pariwisata internasional.
Video program FEB UGM Podcast: Ekonomi Berkelanjutan dan Demokratis selengkapnya dapat diakses melalui: ugm.id/FEBPodcastEkonomiBerkelanjutandanDemokratis
Penulis: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
