Di balik romantisasi Yogyakarta, tersimpan permasalahan yang tak kunjung usai. Sampah seolah-olah menutup keindahan jantung para pelajar Indonesia. Per Juli 2023, Pemerintah Daerah Yogyakarta bahkan tak kuasa mempertahankan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan karena kuantitas sampah yang kian membeludak. Sekitar 700 ton sampah masuk ke TPA Piyungan setiap hari. Sampah sisa makanan mendominasi, yakni sebanyak 56 persen, diikuti sampah plastik sebesar 24 persen. Realitas ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Yogyakarta terhadap pengelolaan sampah masih rendah.
Potret Pengelolaan Sampah di FEB UGM
Kondisi darurat sampah di Yogyakarta membulatkan tekad Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) untuk berkontribusi dalam pengelolaan sampah. Kala mentari menyongsong, para petugas kebersihan siap siaga menyapu dedaunan sebagai langkah awal untuk menjaga kebersihan lingkungan fakultas. Sampah dedaunan yang terkumpul akan diangkut ke area penghancuran sampah daun. Mesin crusher kemudian akan meleraikan sampah daun hingga terbentuk partikel berukuran lebih kecil. Hasil penghancuran tersebut akan diberi obat khusus untuk mempercepat proses pembusukan, lalu dipindahkan ke wadah penampungan.
Hasil pembusukan kemudian melalui proses pengayakan. Dalam rentang dua hingga tiga bulan, sampah dedaunan disulap menjadi pupuk organik yang kaya nutrisi. Pupuk tersebut dimanfaatkan untuk pembuatan biopori di lingkungan Plaza FEB UGM. Pada praktiknya, pupuk tersebut dicampur dengan sekam dan tanah sebelum akhirnya ditabur ke dalam paralon yang telah ditanam. Dalam suatu siklus berkelanjutan, sampah dedaunan turut mendukung kesuburan dan keanekaragaman hayati di lingkungan FEB UGM.
Tak Hanya Petugas Kebersihan, Civitas Academica pun Turut Andil
Petugas kebersihan bukanlah aktor tunggal yang bergiat dalam mewujudkan misi hijau fakultas. Segenap sivitas akademika turut andil dalam mewujudkan aspirasi budaya bebas sampah di area FEB UGM. Langkah kecil tetapi berarti dicanangkan oleh fakultas untuk mengelola sampah. Sivitas akademika dianjurkan membawa tumbler sebagai upaya untuk meminimalkan penggunaan botol plastik. Fasilitas Toyagama, yakni layanan penyediaan air minum oleh pihak UGM, siap sedia menjadi tempat persinggahan bagi sivitas yang hendak mengisi ulang tumbler mereka. Tak hanya itu, seluruh tempat sampah di FEB UGM telah diorganisasi sedemikian rupa dalam bentuk tiga kelompok limbah, yaitu recycable, organik, dan anorganik. Imbasnya, pemilahan dan pengelolaan sampah pun menjadi lebih mudah dilakukan.
Di tengah terik matahari, tepat pada pukul dua siang, petugas kebersihan mengosongkan tempat pemilahan sampah dan mengumpulkan sampah tersebut di area transit. Sampah ditimbang beratnya. Tak lupa, salah satu petugas juga mencatat hasil timbangan tersebut melalui platform Google Form untuk membantu pihak fakultas mengetahui tren harian perolehan sampah. Setelah itu, petugas pun bergegas ke Depo Pembuangan Sampah UGM untuk memindahkan sampah organik dan anorganik. Lain cerita dengan pemrosesan sampah yang dapat didaur ulang (recyclable). Khusus jenis sampah tersebut, sampah yang telah ditimbang tidak akan dibuang ke depo, melainkan akan dijual kepada pengepul. Hasil penjualan tersebut mampu menyokong kas untuk mendukung berbagai kegiatan sosial yang dilakukan oleh petugas kebersihan.
Di sisi lain, limbah makanan (food waste) juga tak luput dari perhatian FEB UGM. Jenis limbah satu ini merupakan dalang utama di balik permasalahan darurat sampah di Yogyakarta, terlihat dari dominansinya dalam komposisi sampah di Daerah Istimewa. Tidak perlu jauh-jauh, kantin EB, yang ramai dikunjungi mahasiswa maupun tenaga kependidikan, menjadi salah satu contoh nyata sebagai kontributor limbah makanan. Pihak fakultas lantas mengolah limbah tersebut menjadi pakan ternak berkualitas, khususnya untuk ikan dan unggas. Nilai tambah tercipta; lingkungan pun terjaga.
Harapan Besar untuk Keberlanjutan Lingkungan
Upaya yang dijalankan oleh FEB UGM merupakan aksi nyata untuk mendukung gerakan “UGM Bebas Sampah”. Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA. Selaku Dekan FEB UGM, berujar, “Selaras dengan misi FEB UGM untuk berkontribusi terhadap aspek berkelanjutan, kami berkomitmen untuk menerapkan budaya berkelanjutan. Bentuknya antara lain adalah aksi memilah dan memilih sampah. Aksi ini menciptakan nilai tambah dari sampah yang dihasilkan.”
Dari aspek sampah anorganik, Prof. Didi menekankan upaya FEB UGM dalam mendaur ulang jenis sampah ini, mulai dari kertas hingga plastik. Di sisi sampah organik, FEB juga memproses sampah makanan menjadi pakan ternak dan sampah daun menjadi pupuk organik. “Mari kita ciptakan lingkungan kampus yang bersih, nyaman, dan asri untuk mendukung keberlanjutan,” tutup Prof. Didi.
Kontribusi dari FEB UGM diharapkan mampu menimbulkan efek berganda (multiplier effect) bagi berbagai pihak. Terlebih, aksi ini merupakan wujud nyata tekad fakultas untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan nomor 11 (kota dan komunitas yang berkelanjutan), 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab), 13 (aksi untuk iklim), 14 (kehidupan di perairan), dan 15 (kehidupan di darat). Semangat selalu, sivitas akademika FEB UGM dalam menjaga keberlangsungan lingkungan!
#GoFEBGreen
Tempat kerjaku rapi, kampusku bersih, dan lingkunganku asri.
Reportase: Rizal Farizi
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)




