Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) melalui Bidang Kajian Manajemen Logistik dan Rantai Pasokan/Supply Chain and Circular Economy (SCCE) bekerja sama dengan Ekonomi Sirkular ID menyelenggarakan acara bertajuk Sirkular Talk dengan tema “Inovasi Bahan Pewarna Ramah Lingkungan dalam Industri Tekstil dan Mode” di Selasar CIMB Lounge FEB UGM pada Kamis, 17 Oktober 2024. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mahasiswa tentang implementasi ekonomi sirkular.
Koordinator Bidang Kajian Supply Chain Circular Economy FEB UGM, Luluk Lusiantoro, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyelenggaraan acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang implementasi ekonomi sirkular. Selain itu, melalui kegiatan ini, diperkenalkan platform Ekonomi Sirkular ID (ekonomisirkular.id), yaitu platform pertama di Indonesia yang berfokus pada edukasi praktik ekonomi sirkular. Platform ini juga menyediakan instrumen untuk menilai sejauh mana individu dan perusahaan telah mengadopsi prinsip-prinsip ekonomi sirkular.
“Kegiatan ini harapannya dapat direplikasi oleh fakultas dan universitas lain di Indonesia sebagai upaya mempromosikan dan menularkan ide-ide tentang ekonomi sirkular dan ekonomi berkelanjutan,” jelasnya.
Sirkular Talk menghadirkan Prof. Edia Rahayuningsih., MS., IPU, Ketua Indonesia Natural Dye Institute (INDI) UGM sebagai narasumber utama. Dalam kesempatan itu, ia berbagi wawasan dan pengalamannya dalam menerapkan ekonomi sirkular di industri tekstil melalui penggunaan pewarna alami.
Edia menjelaskan pentingnyainovasim dalam pewarna alami. Pengembangan inovasi pewarna alami perlu dilakukan tidak hanya untuk menyediakan alternatif pewarna yang ramah lingkungan, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pada pewarna sintetis yang masih didominasi oleh produk impor. “Indonesia masih mengimpor pewarna sintetis senilai 5 triliun rupiah, padahal jenis pewarna ini telah dilarang penggunaannya karena berbahaya,” ungkap dosen Teknik Kimia UGM ini.
Ia juga menyoroti bahwa sekitar 90% perajin kecil masih menggunakan pewarna sintetis. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan biodiversitas lokal sebagai bahan baku pewarna alami. Pewarna alami tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tetapi juga dapat menghidupkan kembali industri pewarna alam di Indonesia. INDI UGM hadir untuk mendukung inovasi teknologi dan memastikan rantai pasokan dari hulu hingga hilir, khususnya untuk pewarna alami di industri tekstil dan pewarna makanan.
Dalam diskusi interaktif, Edia mengajak generasi muda untuk lebih sadar dalam memilih produk tekstil. Ia juga mengajak mahasiswa untuk berkontribusi melalui solusi sederhana tetapi berdampak, seperti mendaur ulang pakaian dan memilih pewarna alami.
Acara ini dihadiri oleh 117 mahasiswa dari berbagai fakultas. Salah satu peserta dari Fakultas Geografi, Amrique Marwatul Wafiroh, mengungkapkan bahwa seminar ini memberikan wawasan baru tentang pemanfaatan limbah dalam industri tekstil serta pentingnya ekonomi sirkular. Ia memberikan highlight menarik dalam pembahasan limbah mangrove yang ternyata tidak hanya daun yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami, tetapi juga banyak aspek yang bisa diolah.
Sementara itu, Nashifah Nailatusy Syarafah, yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Geografi, berharap melalui kegiatan ini, generasi muda dapat menerapkan ekonomi sirkular dan berkelanjutan. “Sesinya sangat menarik dan interaktif. Saya senang dapat ikut serta dalam acara ini. Harapannya, materi yang disampaikan oleh pembicara tadi dapat diaplikasikan oleh masyarakat di masa depan,” jelasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)










