Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Salah satunya diwujudkan melalui upaya konservasi air. Untuk memperkuat program konservasi air FEB UGM mengirimkan 25 staf profesionalnya mengikuti Pelatihan Pengelolaan dan Pemanfaatan Air Hujan ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Ngaglik, Sleman pada Rabu (21/1/2025).
Kepala Kantor Administrasi FEB UGM, Nur Bakti Susilo, S.E., Ak., CA., ASEAN CPA. menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. FEB UGM telah menerapkan berbagai inisiatif pengelolaan air hujan dengan mengembangkan program menabung air hujan dan pembangunan sumur resapan untuk mengurangi genangan dan banjir.
“Upaya ini sejalan dengan tagline Kemdiktisaintek yaitu “Kampus Berdampak” yang menekankan bahwa perguruan tinggi harus memberikan dampak nyata bagi stakeholder dan masyarakat luas. Harapannya, kita dapat belajar bersama dan menerapkannya di fakultas maupun lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih menyampaikan bahwa pengelolaan air tidak seharusnya berhenti pada kebijakan di tingkat institusi saja. Ia juga mendorong setiap individu menjadi pelaku perubahan dan beradaptasi dalam menghadapi berbagai kondisi lingkungan.
“Hal yang perlu disadari oleh setiap individu adalah kesadaran untuk memanfaatkan air hujan yang jatuh secara bijak dan mengembalikannya ke alam sehingga manusia dapat berperan sebagai penjaga keseimbangan lingkungan. Kampus tidak seharusnya menjadi pelopor eksploitasi air tanah tanpa upaya pengembalian ke alam,” tegasnya.
Mengingat permasalahan air yang semakin kompleks dan membutuhkan perhatian, Sri menjelaskan bahwa swasembada air sangat dibutuhkan karena air merupakan kebutuhan dasar manusia.
“Pertanyaannya adalah apakah masyarakat benar-benar telah sejahtera dalam pemenuhan kebutuhan airnya? Kenyataannya, kebutuhan air saat ini sebagian besar masih berbayar karena keterbatasan sumber air dan rendahnya kepercayaan terhadap kualitas air yang tersedia,” ungkapnya.
Ia pun mengajak peserta untuk memanfaatkan air hujan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan sehari-hari dengan konsep lumbung air yang dikenal dengan 5M, Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri.
Sri menceritakan proses ini yang diawali dengan menampung air hujan setelah 5-10 menit hujan berlangsung untuk menghindari debu dan kotoran dari atap. Air hujan yang ditampung diendapkan dan disaring dengan alat filtrasi sederhana seperti antara lain ember atau wadah bersih, corong, kain atau saringan, serta wadah penampung air.
Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan penyimpanan air. Misalnya, penempatan yang jauh dari paparan sinar matahari dengan wadah tertutup. Langkah tersebut perlu dilakukan untuk mencegah pertumbuhan lumut dan potensi pelepasan mikroplastik.
Air hujan yang telah diolah, lanjutnya, dapat ditabung sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau di tandon-tandon besar. Sementara kelebihan air dikembalikan ke dalam tanah melalui sumur resapan sebagai bentuk tanggung jawab ekologis.
“Melalui penerapan prinsip 5M ini, masyarakat diharapkan dapat mencapai kemandirian air sekaligus berperan aktif dalam menjaga keseimbangan lingkungan,” jelasnya.
Dalam pelatihan ini, staf profesional FEB UGM tidak hanya melakukan diskusi tentang pengelolaan air hujan. Mereka juga diberikan kesempatan untuk melaakukan praktik sederhana pengujian kualitas air menggunakan alat TDS tester.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
